Suatu hari ada seorang gadis yang bernama Lucy Hanby. Umurnya sekitar 10 tahun, Lucy tinggal di daerah Los Angeles, Amerika. Ia mempunyai paras yang cantik, mata yang berwarna biru bagai air yang mengalir indah serta mempunyai tatapan yang tajam. Bukan hanya itu saja, ia pun tumbuh di sebuah keluarga yang amat sangat kaya raya. Tapi, pada kenyataannya, ia merasa saja dianggap tidak berguna dan merepotkan semua orang. Ia menganggap dirinya lemah dan tak berdaya. Semua orang tau, apa masalah yang di alaminya sampai sekarang. Yaitu Tuna Rungu dan Tuna Wicara. Ia pun sudah berpikir bagaimana caranya untuk mengakhiri hidupnya yang ia anggap menyedihkan.
Setiap hari ia pergi ke rumah sakit terbesar yang berada di kotanya. Ia merasa tersiksa, karena setiap hari ia hanya di theraphy dan pergi ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Ia juga mempunyai bakat yang paling menonjol selama ia belajar di SLB Kanska . Lucy juga mempunyai angan yang indah. Ia ingin mempunyai hidup yang indah dan berwarna, layaknya anak-anak yang lain. Tapi menurut dokter yang mengobatinya, hal itu sepertinya mustahil.
Lucy juga ingin hidup bahagia tanpa beban. Jadi ia memulai harinya dengan senyuman yang indah.
Lucy tumbuh menjadi pribadi yang pemalu dan enggan untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Kalaupun ia datang ke tengah-tengah orang yang ia inginkan, ia tau pasti mereka akan acuhkan dan mengejek Lucy sepuas yang mereka inginkan. Tapi Lizy, terus memberikan support dan perhatian kepada Lucy agar ia mau berkumpul dengan yang lainnya. Tapi ternyata Lizy gagal untuk membujuk Lucy. Hati Lucy pun mungkin sudah mengeras bagai batu. Ia tidak mempunyai percaya diri yang lebih.
Lalu Lizy membangunkan Lucy, dengan menepuk bahu Lucy dengan lemah lembut. Spontan, Lucy pun terbangun dari tidurnya tapi ia tidak merasa dikagetkan. Setelah itu merekapun makan siang bersama.
Tumben sekali hari ini, Lucy ingin menonton acara televisi. Padahal ia sama sekali tidak dapat mendengar suara yang dihasilkan. Tapi Lucy mencoba untuk mengerti. Ia mencoba untuk menyesuaikan keadaan di sekitarnya. Ia tau tidak semua orang menggunakan bahasa isyarat seperti yang ia gunakan dengan Lizy.
Lucy begitu menikmati acara televisi yang disiarkan. Ia menyaksikan siaran televisi hingga jam tiga sore. Lalu Lizy menghampiri Lucy
-Ku Percaya Engkau Pasti Ada Part 2, coming soon ya :)
Setiap hari ia pergi ke rumah sakit terbesar yang berada di kotanya. Ia merasa tersiksa, karena setiap hari ia hanya di theraphy dan pergi ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Ia juga mempunyai bakat yang paling menonjol selama ia belajar di SLB Kanska . Lucy juga mempunyai angan yang indah. Ia ingin mempunyai hidup yang indah dan berwarna, layaknya anak-anak yang lain. Tapi menurut dokter yang mengobatinya, hal itu sepertinya mustahil.
Lucy juga ingin hidup bahagia tanpa beban. Jadi ia memulai harinya dengan senyuman yang indah.
”Aku ingin memulai hidupku ini dengan senyuman yang indah dan hal yang positif,”ucapnya dalam hati.Lucy dirawat oleh seorang perawat yang bernama Lizy. Lizy adalah perawat handal dan spesialis untuk anak-anak cacat. Sewaktu sekolah di School of Nursery di Inggris, Lizy belajar mengenai Psikologi Anak, Body Language, cara merawat anak yang cacat dan lain sebagainya. Banyak orang Amerika yang memilih perawat dari Inggris. Sebab, mereka menganggap lulusan School of Nursery amatlah cekatan. Lizy merawat Lucy hingga Lucy berumur 14 tahun. Walaupun Lucy sudah lama dirawat oleh Lizy, ia tidak pernah merasa bosan. Karena Lizy, orang yang sangat humoris, menarik dan perhatian. Lucy hanya mendapat perhatian lebih dari Lizy karena kedua orang tua Lucy hanya sibuk bekerja dan sebagian hidup mereka dihabiskan untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Lucy tau bahwa kedua orang tuanya adalah Workaholic. Jadi percuma saja kalau ia merengek untuk mendapat perhatian. Sama saja melakukan hal yang bodoh dan menghabiskan waktunya sendiri.
Lucy tumbuh menjadi pribadi yang pemalu dan enggan untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Kalaupun ia datang ke tengah-tengah orang yang ia inginkan, ia tau pasti mereka akan acuhkan dan mengejek Lucy sepuas yang mereka inginkan. Tapi Lizy, terus memberikan support dan perhatian kepada Lucy agar ia mau berkumpul dengan yang lainnya. Tapi ternyata Lizy gagal untuk membujuk Lucy. Hati Lucy pun mungkin sudah mengeras bagai batu. Ia tidak mempunyai percaya diri yang lebih.
“Aku tidak mau pergi ke luar. Mereka semua jahat kepadaku! Aku hanya ingin di dalam rumah, sendirian! Tanpa seorang pun yang mengganggu,” kata Lucy memberitahukan Lizy dengan bahasa isyarat yang ia kuasai.Lizy paham dengan benar apa yang Lucy katakan. Lalu ia menjawab dengan bahasa isyarat juga
“Aku tau, tetapi kamu harus pergi ke luar. Kamu bukan anak kecil yang hanya ditimang dirumah. Kamu akan tumbuh menjadi gadis,”Lalu Lucy berlari dengan kencang kearah kamarnya. Lizy knows, Lucy is wanting to cry alone without any people in her room. Lucy berjalan dengan pelan ke arah balkon kamarnya, ia bergumam dalam hati,
“Andai mereka tau, menjadi seorang yang cacat itu amatlah menyedihkan. Walaupun dalam bentuk fisik sama, tapi aku mempunyai perbedaan yang tak dapat dihilangkan begitu saja,” lalu Lucy menangis dalam hati. Yang terdengar hanya isakannya saja.Lucy pun juga tidak ingin hanya termanggu saja oleh nasib. Menurut orang-orang di sekitarnya, ia mempunyai bakat dalam melukis di atas canvas. Maka dari itu, Lucy dengan sigap mangambil peralatan melukisnya. Mulai dari cat minyak, kertas, kuas yang besar hingga yang kecil dan lain sebagainya. Lalu Lucy menaruh semua peralatan melukisnya di balkon kamarnya. Balkon kamarnya menghubungkan dengan taman yang ditumbuhi oleh mawar, anggrek dan bunga langka lainnya. Dan ia pun mendapatkan inspirasi. Ia berpikir, moodnya hari ini adalah menggambar mawar merah yang layu dan rontok. Setelah beberapa saat membuat kerangkanya, Lucy ingin istirahat sejenak. Setelah beberapa saat ia meneruskan lukisannya. Lucy amat sangat kewalahan. Sehingga ia tertidur di sofa balkon. Sampai Lizy datang menghampirinya. Dan memanggil Lucy untuk makan siang. Tapi ketika Lizy langsung terdiam sejenak ketika melihat lukisan Lucy. Ia tidak menyangka-nyangka bahwa lukisan Lucy bisa seindah ini. Lizy menatap lukisan itu dengan air mata berlinang. Ia tau mengapa nona kecilnya ingin melukis mawar yang gugur. Tapi Lizy langsung menepis pikirannya dan menganggap bahwa lukisan Lucy hanya cerminan perasaan yang sedang ia rasakan.
Lalu Lizy membangunkan Lucy, dengan menepuk bahu Lucy dengan lemah lembut. Spontan, Lucy pun terbangun dari tidurnya tapi ia tidak merasa dikagetkan. Setelah itu merekapun makan siang bersama.
Lizy berbicara dengan Lucy menggunakan bahasa isyarat, “Lukisan kamu sangat indah. Darimana kamu mendapatkan inspirasi sehebat itu?,”
”Tidak aku hanya mengikuti keinginan hati yang ada, daripada hanya bertopang dagu di balkon! Sama sekali tidak mendapatkan manfaat, tidak dapat merubah hidupku sama sekali!” jawab Lucy dengan bahasa isyarat.Lizy hanya tersenyum manis, karena nona kecil yang ia sayang sekarang tau apa artinya hidup di dunia ini.
Tumben sekali hari ini, Lucy ingin menonton acara televisi. Padahal ia sama sekali tidak dapat mendengar suara yang dihasilkan. Tapi Lucy mencoba untuk mengerti. Ia mencoba untuk menyesuaikan keadaan di sekitarnya. Ia tau tidak semua orang menggunakan bahasa isyarat seperti yang ia gunakan dengan Lizy.
Lucy begitu menikmati acara televisi yang disiarkan. Ia menyaksikan siaran televisi hingga jam tiga sore. Lalu Lizy menghampiri Lucy
“Lucy, sebaiknya jangan menonton lagi. Karena apabila kamu terlalu banyak menonton di televisi, mata kamu akan cepat rusak sayang” kata Lizy dengan bahasa isyarat.
“Daripada kamu bosan, lebih baik kamu makan kue yang baru saja kubuatkan. Kue kesukaanmu Blueberry Muffin. Kamu mau?”Tambah Lizy. Lucy hanya menganggukan kepalanya, tanda bahwa ia setuju!Lucy menghabiskan kue favoritnya dan meneguk segelas Lime Juice yang dingin. Ia merasa sangat kekenyangan. Lalu ia berterima kasih kepada Lizy karena ia sudah dibuatkan kue yang lezat. Tanpa banyak basa-basi, Lucy pun berlalu daripada pandangan Lizy. Lizy tidak tau kemana arah Lucy pergi. Lucy punya tujuan. Ia ingin menyendiri di perpustakaan. Ia ingin mendapatkan inspirasi yang indah dari kata-kata konotatif yang ada di dalam kumpulan buku puisi ayah dan bundanya.
-Ku Percaya Engkau Pasti Ada Part 2, coming soon ya :)

No comments:
Post a Comment